Dalil Mengapa Sebaiknya Kita Keluar dari Grup Chat Era Sedang Isoman Covid-19

TABLOIDBINTANG. COM   –  Kabar seseorang yang kita kenal terkena Covid-19, melakukan isoman, ataupun dirawat di rumah melempem, hingga yang sampai harus meninggal, saat ini semakin sering terdengar. Tidak lain disebabkan semakin masifnya penyebaran virus tersebut dengan seluruh varian terbarunya. Kabar semacam itu biasa kita dapatkan dari grup-grup chat, kaya grup WhatsApp dan lainnya.

Tentu kabar semacam tersebut penting bagi semua yang berada di dalam persekutuan. Bisa mengetahui kabar seseorang yang kita kenal, apalagi kita sayangi, sangat bermakna. Namun perlu diketahui, hasil berbeda akan dirasakan sebab anggota grup yang bertepatan sama sedang terkena Covid-19. Mental mereka bisa oleh karena itu akan terganggu karena ponselnya dibombardir kabar sedih dan duka. Mental yang drop bisa berisiko menurunkan kalis yang padahal sangat diperlukan tubuh dalam usaha melawan virus.

Dan ini belum ditambah yang menghubungi tepat atau japri. Dengan tafsiran menunjukkan kepedulian, rasa afeksi, dan empati terhadap mereka yang sedang terkena Covid-19, namun nyatanya malah mampu menambah stres.

“Makanya (boleh saja) blok seluruh nomor, ” ceplos psikolog Sani Budiantini Hermawan, saat Edukasi Penanganan Pandemi Covid-19 Bagi Pekerja Media serta Peluncuran AMSI Crisis Center COVID-19 dalam siaran live di kanal YouTube AMSI Asosiasi Media Siber Indonesia, Selasa (27/7).

Menurut Sani, ketika kita sedang merasakan sakitnya ini, mereka dengan malah terus saja menelepon, menghubungi, dengan maksud meluluskan semangat, tapi dengan jalan yang kurang tepat, bahkan bisa menimbulkan gejala sakit yang makin serius. Karena mungkin menelepon menanyakan kabarnya sambil ikut menangis, menjerit-jerit, lalu mengucapkan kata-kata penyemangat semacam ‘kamu harus kuat’, ‘kamu jangan sakit’, ‘kamu jangan mati’, ‘saya roman kamu’, dan lain sebagainya.

Sebetulnya kepedulian khas masyarakat Indonesia ini sangat indah. Artinya banyak diantara kita yang mau hadir untuk membantu, cuma saja tidak tahu caranya. “Makanya saya ingin mengedukasi, penderita dan pendamping, buat mari yuk konsultasi ke psikolog. Untuk tahu cara-cara yang benar, agar mereka yang didampingi juga oleh karena itu lebih sehat, bukan malah lebih sakit, ” introduksi Sani.

Maka apa yang minimal bisa dilakukan pendamping dalam memberikan dukungan terbaiknya?

“Akomodir perasaannya. Memvalidasi perasaannya. Ketika ada seseorang dengan kita kenal berkata ‘saya sedih sekali kena Covid’, maka cukup katakan kami ikut prihatin kamu prihatin, ” kata Sani.

Lalu dengarkan keluh kesahnya minus menghakimi, tenangkan perasaannya, tidak menyalahkan, membatasi menyampaikan berita negatif, mengajak kepada kesibukan yang menghibur, dan tak menimbulkan kepanikan. Tidak lengah, arahkan ke psikolog jika sekiranya masalah mental dengan dihadapi dirasa lebih benar-benar.