Hati-hati, Pertengkaran Rumah Tangga Bisa Berpengaruh Buruk pada Kesehatan

Hati-hati, Pertengkaran Rumah Tangga Bisa Berakibat Buruk pada Kesehatan

Masalahnya bukan terletak pada cekcok antarpasangan, yang ialah interaksi alami dalam hubungan jangka panjang seperti pernikahan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM   –  Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa orang dengan menikah cenderung memiliki kesehatan dengan lebih baik daripada mereka yang bercerai atau tidak menikah. Tetapi perlu diingat, hubungan pernikahan dengan buruk –seperti adanya konflik tidak berkesudahan, kemampuan mendengarkan yang membatalkan, dan adanya kekerasan—justru dapat melahirkan efek sebaliknya. Hubungan pernikahan yang buruk justru meningkatkan potensi timbulnya gangguan kesehatan fisik dan moral.

Masalahnya bukan terletak pada cekcok antarpasangan, yang merupakan interaksi alami dalam hubungan jangka panjang seperti ijab kabul. “Tapi penting bagi pasangan untuk mendiskusikan ketidaksepahaman itu, ” sekapur Janice Kiecholt Glaser, direktur pada Institut Penelitian Medis MasalahPerilaku di Universitas Negeri Ohio, Amerika Konsorsium, yang telah mempelajari kaitan antara penikahan dengan kesehatan manusia selama 25 tahun.

Dalam penelitian terbarunya, Janice Kiecholt Glaser dan timnya menilai 43 pasangan suami istri untuk melihat bagaimana ketegangan dalam panti tangga mempengaruhi kesehatan mereka. “Kami menemukan tingkat lipopolisakarida atau pengikat protein yang menandakan kebocoran usus lebih tinggi pada pasangan dengan sering bertengkar, ” ungkap Janice Kiecholt Glaser.

Tidak hanya tersebut, dalam penelitian sebelumnya  Janice Kiecholt Glaser juga menemukan kaitan antara hubungan suami-istri yang kerap dilanda pertengkaran dengan potensi munculnya penyakit-penyakit berat. “Konsekuensi utama dari pertengkaran rumah tangga adalah munculnya bermacam-macam konsekuensi kesehatan lain seperti penyakit yang terkait dengan peradangan, kemunduran, penyakit kardiovaskular, sindrom gangguan metabolisme, diabetes, dan penyembuhan luka dengan lambat, ” Janice Kiecholt Glaser memperingatkan.

Rekomendasi